Mengapa Gen Z Seringkali Pamer Terhadap Hartanya?

Ilustrasi pemuda yang sedang menari bersama hamburan uang (freepik.com/author/freepic-diller)


Generasi Z atau sering dikenal sebagai Gen Z merupakan kelompok demografis yang menggantikan generasi milenial, generasi x, dan baby boomer. Kelompok orang yang lahir antara 1996 dan 2016 ini mempunyai karakteristik yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Generasi inilah yang tumbuh di era digital, di mana teknologi dan media sosial telah menjadi bagian penting dari kehidupan mereka. Dari hal tersebut, bisa mendapatkan dampak positif, tapi tak menutup kemungkinan terdapat dampak negatifnya. Salah satunya adalah pamer harta atau biasa dikenal sebagai flexing.

Perbuatan flexing ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah keinginan untuk menunjukkan kesuksesan dan status sosial, pengaruh budaya konsumsi yang kuat, dan keinginan untuk diakui oleh orang lain. Faktor lainnya karena mereka takut tertinggal suatu tren atau singkatnya FOMO (Fear Of Missing Out).

Untuk mengetahui hal tersebut, bisa dilihat dari bagaimana cara kaum gen Z memamerkan harta. Jika sikapnya terlihat sombong dan merendahkan orang lain dapat timbul rasa tidak senang dan kebencian dari orang lain. Ini merupakan tindakan yang tidak pantas untuk ditiru.

Apalagi peran media sosial sekarang ini bisa membuat perilaku Gen Z menjadi-jadi. Media sosial memberikan ruang agar kalangan ini bisa mendapatkan validasi dan perhatian dari teman sebayanya untuk memamerkan keberhasilan dan kekayaan.

Kemudian, dari teknologi dan media sosial Gen Z bisa melihat budaya dari penjuru dunia. Seperti halnya jika ada seseorang yang memposting barang di media sosial, yang bisa dikatakan barang tersebut sedang tren, maka mereka bisa saja membelinya. Ketika sudah membelinya, biasanya kalangan ini selalu memamerkannya di media sosial. Padahal barang yang dibeli itu tidak dibutuhkan. Ketika melewatkan tren, mereka bisa merasa takut, cemas, dan khawatir.

Dampak dari flexing ini bisa menciptakan rasa iri dan tidak nyaman bagi orang lain. Karena yang diperlihatkan hanyalah hal-hal yang berbau kemewahan dan akhirnya timbul tekanan sosial pada orang-orang yang merasa tidak mampu. Buruknya lagi, Gen Z yang terbiasa dengan flexing bisa menjadi korban kejahatan, seperti pencurian, perampokan, dan semacamnya.

Oleh karena itu, Gen Z perlu paham betul memamerkan harta di media sosial bukanlah segalanya. Yang lebih penting adalah bagaimana cara memperoleh harta tersebut dan bagaimana memanfaatkannya untuk kebaikan diri sendiri juga orang lain. Perlu dipahami bahwa kesuksesan dan kebahagiaan sejati tidak hanya didasarkan pada harta dan status sosial, tetapi juga pada kebahagiaan batin dan hubungan yang baik dengan orang lain.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama