Rasanya Menjadi Seorang Anak Magang

Ilham, mahasiswa semester akhir yang sedang melakukan magang (Foto Pribadi: Ilham Syakur Fidina)

Sebagai anak magang, seseorang pasti paham betul dengan perjalanannya seperti apa. Ada suka maupun dukanya. Jika diceritakan pun ada cerita uniknya. Magang sendiri merupakan pintu gerbang ke dunia kerja.

    Dimana seorang mahasiswa praktik atau terjun langsung lapangan kerja. Hal ini guna menjadikan mahasiswa mengerti dengan lingkup dunia sebenarnya sekaligus kewajibannya dalam memenuhi tugas dari kampus. Saya salah satunya. Salah seorang mahasiswa Depok semester akhir yang sedang praktik magang.

    Berawal mula dalam mencari magang, begitu sulit rasanya. Mencari kesana kemari, pulang hasil tangan kosong. Saya hanya bisa menghela nafas. Begitu ketat dan kuat persaingannya. Akhirnya, saya mengerti mengapa sekarang susah mencari pekerjaan. Berpikir oh, begini rupanya.

     Baru saja mau melamar magang, apalagi lamar pekerjaan. Saya mulai teringat dan mengerti dengan ucapan ayah. “Mas, nanti kamu harus rajin-rajin ya. Cari pekerjaan di zaman sekarang semakin susah”. Ucapan seorang ayah membuat saya pantang menyerah untuk terus mencari tempat magang.

    Dua bulan dialami, bersyukur ketika mendengar kabar kalau saya diterima sebagai anak magang di salah satu industri media di Indonesia. Di tempat ini, saya juga mendaftar bersama teman. Ternyata, ditempatkan di tempat yang sama.

    Mulai dari sinilah cerita saya sebagai anak magang dimulai. Banyak hal yang dijumpai yang ternyata tidak ada di kampus. Pembelajaran dan tantangan terutama. Ini yang membuat saya merasa tumbuh dan berkembang.

    Karena telah bergabung dengan industri media ini, saya bisa mendapatkan kesempatan untuk belajar dari para profesional. Para profesional ini biasa disebut dengan mentor. Mentor inilah yang memberikan pengetahuan dan pengalamannya kepada saya sebagai bekal berharga di masa depan nanti.

    Bukan hanya itu, pandangan saya tentang dunia pekerjaan menjadi terbuka. Berbeda ya, dengan dunia di masa sekolah, masa kuliah, dan masa kerja. Apakah saya yang terlalu lugu? Saya sampai berpikir seperti itu.

    Saya juga harus beradapatasi dengan orang-orang sekitar industri. Seperti ikan kecil yang berenang di lautan besar, harus beradaptasi dengan ikan-ikan besar lainnya dan mencoba untuk tidak jatuh ke dasar. Bersikap ramah, sopan, dan bertanggung jawab tentunya perlu diperhatikan. Alhamdulillah, karena sikap seperti itu saya disambut dengan ramah dan baik.

    Namun, tantangan yang didapatkan juga ternyata cukup sulit. Entah dari deadline atau kesalahan yang saya buat. Terkadang rasa tertekan pun muncul. Ketika rasa itu muncul, saya mulai membaca istighfar berulang kali, “Astaghfirullah”.

   Setelah menenangkan diri, saya kembali melanjutkan kewajiban saya. Baik yang baru ataupun revisi. Di satu sisi, senang rasanya bisa terlibat di industri media. Lebih lagi jika hasil saya dihargai dan dipublikasikan.

   Senang bukan main rasanya. Saya juga merasa bangga terhadap diri sendiri karena bisa berhasil menyelesaikan tugas dengan baik. Apalagi dengan hasil jerih payah sendiri.

    Kira-kira begitulah yang saya rasakan selama menjadi anak magang. Walaupun tidak sempurna, ada suka dukanya, saya bisa menghadapi realitanya dengan baik dan bersyukur. Pengalaman ini juga membuat mata saya terbuka dengan dunia luar sesungguhnya. Hal ini juga membentuk pribadi saya lebih kuat dalam menghadapi tantangan dan mempersiapkan diri untuk masa depan.


Keyword:
Mahasiswa, Magang, Pengalaman

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama