Kereta Tanya

Untuk masinis manis yang enggan menangis,

Kalimat itu menyakitkan betul, dua hal: aku dipermalukan, kau memberi batasan.

Dari semua jika, yang kumau hanyalah kita. Bukan untuk bersama, bukan untuk menuju kota secrpatnya, tapi kau memegang kendali, dan ku yang kau cari untuk menemani. Berat betul berat.

Rasa yang beda, orientsi yang tak sama, kau tau mau kemana, aku harus bertanya terus ini kemana. Beda itu nyata, aku tertinggal dalam kereta yang tidak kau jaga.

Aku oernah mengemudi, sendiri, dan aku yakin kemana aku pergi. Hingga jalan bercabang menantang, kutabrak gardu di depan, dan ku temukan kau mengangkat tangan.

Tanya selalu kucoba, raga tak kunjung kubina, bingung adalah akubatnya, proteksi otomatku berkata kaulah penyebabnya.

Bisa kah aku lupa? Bisakah kau tidak?

Aku jatuh dalam tanda tanya, dan kau tidak menjukurkan tangan yang kau punya.

Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan di gerbong ini, sendiri melihat punggungmu, aku menunggu.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama