Tentang Salah

Dan metika riuh kepala tak bisa aku redam, siapa yang bisa membawa apar itu?

Jelas bukan dia, yang aku tahu bukan tuan tanah domestik ini. Apalagi dirinya, bahkan sapa tidak pernah walau temu melulu. Mereka? Mungkin, tapi ada panas yang tidak bisa menguap. Orang itu? Juga kurasa tidak, riuhku bercampur riuhnya bila iya.

Dan akhirnya ku berdiri, menyendiri dan terlupa. Akhirnya hanya ada aku, yang enggan berkata pulang, mengucap ulang, bernadzar benar, dan meratap jujur.

Akhirnya hanya ada aku, yang kutarik semua ingin karena dunia itu terlalu dingin. Hanya ada aku yang merasa enggan saat semua mengangkat tangan. Hanya ada aku yang tidak dilihat, tidak dikejar, tidak ditatap, tidak kau tanya, dan tidak bahagia.

Cerita ini merah, bukan biru. Api, bukan hujan. Marah, bukan kesedihan.

Aku tunarungu difenagh gemuruh, aku tunadaksa di marathon yang kudamba, aku tunawisma di pelataran istana yang tidak menerima. Aku bukanlah aku yang kau kira, bukan juga yang KU kira.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama