Lebaran merupakan momen yang sangat dinanti oleh umat muslim di seluruh dunia. Bagi umat muslim di Indonesia, salah satu tradisi yang tidak boleh terlewatkan adalah salat Id. Namun, ada sebuah cara yang berbeda dan dapat meningkatkan kesan selama bulan Ramadan yaitu dengan melaksanakan salat Id di depan gereja.
Tradisi salat Id di depan gereja bukanlah hal yang baru di Indonesia. Seperti halnya daerah Depok yang sudah lama melakukan tradisi ini. Melaksanakan salat Id di depan gereja dapat memberikan kesan yang berbeda dan menambah khidmatnya suasana lebaran.
Salah satu tempat utama untuk merayakan salat Id di Depok adalah di Lapangan Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (LCC), tepatnya depan Gereja Bethel Indonesia, Kota Depok. Setiap tahun, umat Islam dari daerah Depok berkumpul di depan gereja ini untuk bersama-sama melaksanakan salat Id.
Salat Id juga diikuti oleh umat muslim yang berasal dari berbagai tempat. Ada yang memang tinggal di sekitar gereja, ada yang dari berbeda kecamatan, ada juga yang sengaja datang dari kota lain.
Salat Id di depan gereja memberikan pengalaman yang berbeda bagi mereka. Tempat yang berbeda dari biasanya akan membuat momen salat Id terasa lebih spesial. Depan gereja yang dijadikan tempat salat Id juga menyediakan ruang yang cukup untuk menampung jemaah. Hal ini membuat mereka dapat melaksanakannya dengan nyaman tanpa perlu khawatir kekurangan ruang.
Sebelum melaksanakan salat Id, anggota pramuka dan salah satu ormas berpartisipasi dalam kegiatan bersih-bersih lingkungan gereja serta menyiapkan shaf salat. Bukan hanya itu saja, anggota pramuka juga menyiapkan pengaturan tempat wudu, saluran air dan listrik guna keperluan jamaah salat, hingga ketertiban lalu lintas kendaraan sekitar lapangan LCC.
Kegiatan ini bukan hanya dilakukan untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar, tetapi juga sebagai bentuk toleransi dan kerjasama antarumat beragama dalam memeriahkan momen lebaran. Serta meningkatkan kerja sama antarumat muslim.
Kegiatan salat Id pun diadakan. Meskipun diadakan di depan gereja, namun suasana tetap meriah dengan suara takbir Idul Fitri yang berkumandang dari pengeras suara. Jemaah yang hadir juga berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga lansia. Mereka juga saling mengkumandangkan takbir.
Setelah salat Id telah usai, seorang ustaz langsung berdiri dan melafazkan takbir “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. La ilaha illallahu wallahu akbar. Allahu akbar wa lillahil hamdu”. Selepas melafazkan takbir, beliau membacakan khotbah Arab dan Indonesia.
Ketika khotbah dibacakan, tidak ada satu pun jemaah yang bersuara atau mengaktifkan alat komunikasinya. Mereka benar-benar khusyuk pada khotbah tersebut.
Khotbah salat Id selesai, ustaz tersebut langsung meminta maaf kepada semua jemaahnya dalam posisi masih di atas mimbar. Para jemaah pun langsung memaafkannya. Setelah itu, mereka saling bermaaf-maafan antarumat muslim dan nonmuslim di sekitarnya.
Tradisi ini dapat meningkatkan kerukunan antarumat beragama. Saat melakukan salat Id di depan gereja, umat muslim dan umat kristen dapat berinteraksi dan saling menghormati. Hal ini dapat membantu mempererat hubungan antarumat beragama di Indonesia.
Selain itu, tradisi salat Id di depan gereja dapat meningkatkan rasa kebersamaan dan keakraban di antara jemaah. Selain berinteraksi dengan umat Kristen, umat Islam juga dapat berinteraksi dengan jemaah lainnya. Hal ini dapat membantu mempererat tali silaturahmi di antarumat muslim yang ada di sekitar gereja.
Momen salat Id adalah momen yang sangat dinanti oleh umat muslim. Dengan melaksanakan salat Id menghadap Gereja Bethel Indonesia, momen tersebut dapat terasa lebih spesial dan memberikan kesan yang berbeda selama bulan Ramadan. Selain itu, tradisi salat Id di depan gereja bisa menjadi bukti bahwa di tengah perbedaan agama, toleransi dan kebersamaan masih bisa terjalin dengan baik. Tradisi ini bisa dijadikan contoh bagi masyarakat Indonesia dalam menjaga kerukunan dan persatuan.
