DEPOK - Mahasiswa bernama Muhammad Fathul Farizi, sebagai founder dan Unggul Yudanira, sebagai co-founder-nya telah memulai bisnis cilok mereka yang bernama CEMEAL selama setengah tahun. CEMEAL didirikan bertujuan untuk menyediakan kudapan hangat pada malam hari untuk para mahasiswa yang mencari makanan ringan.
CEMEAL menggunakan ikan tuna sebagai bahan utama untuk cilok mereka dengan ukuran sedang. Alasan mereka memilih size medium karena cukup untuk mengganjal perut ketika lapar dan ketika mau tidur, perut tidak begah.
Sang founder mengatakan bahwa awal mula ia memulai bisnis cilok ini adalah karena ia dan co-founder-nya bosan menjadi konsumen dan memutuskan untuk menjadi produsen cilok sendiri. Setelah melakukan analisis pasar, mereka menemukan bahwa bisnis cilok masih memiliki banyak peluang.
Namun, mereka memutuskan untuk menggunakan bahan baku ikan karena sudah banyak bisnis cilok yang menggunakan bahan ayam dan sejenisnya. Terlebih lagi, bisnis cilok dengan bahan baku ikan itu masih jarang dijumpai.
Memasuki tahap produksi, Fathul bersama partner-nya menggunakan bahan baku ikan tuna sebagai bahan dasar cilok. Ikan tuna dipilih karena memiliki rasa yang enak dan kaya nutrisi. Selain itu, ikan ini juga dianggap lebih sehat dan rendah kolesterol dibandingkan dengan bahan baku cilok lainnya seperti ayam.
Setelah memilih bahan baku yang tepat, langkah selanjutnya adalah mengolahnya dengan tepat. Fathul dan partnernya menggunakan mesin penggiling untuk menghaluskan ikan tuna, dan mencampurnya dengan beberapa jenis tepung seperti tepung terigu dan tepung tapioka.
Adonan tercampur rata, mereka membentuknya menjadi bola-bola kecil dan merebusnya dalam air yang mendidih. Terakhir, cilok diangkat dan dibiarkan menyejuk di atas saringan untuk menghilangkan sisa-sisa air. Cilok yang telah dingin kemudian siap disajikan dan dinikmati.
CEMEAL memiliki standar kualitas yang harus dipertahankan, terutama karena mereka harus bersaing dengan bisnis cilok lain yang menjual cilok ayam. Adapun dalam menangani persaingan dalam berbisnis, mereka menjual cilok ikan tuna karena bisa menjadi peluang besar bagi mereka.
Untuk memasarkan produknya, CEMEAL tidak hanya mengandalkan saluran penjualan konvensional seperti pasar atau toko-toko, tetapi juga memanfaatkan media sosial dan teknologi modern lainnya. Mereka menggunakan iklan di media sosial seperti di Instagram untuk memperkenalkan produknya kepada calon pelanggan.
“Iya kita juga menggunakan secara digital. Kita menggunakan dari ads-ads di sosial media seperti itu dan juga kita memanfaatkan toko real ya. Dalam arti kaya toko-toko yang ruko-ruko yang ada, kita memanfaatkan itu,” ujarnya.
Meskipun bisnis cilok mereka masih relatif baru, CEMEAL memiliki rencana untuk mengembangkan produk dengan rasa baru atau variasi lainnya agar konsumen tidak bosan. Saat ini, CEMEAL hanya menjual cilok, tetapi mereka berencana untuk menambahkan varian bakso dengan bahan-bahan terbaik.
Tantangan terbesar dalam bisnis CEMEAL adalah manajemen waktu karena Fathul masih menjadi mahasiswa sedangkan partner-nya merupakan pekerja. Namun, mereka mengatasi masalah ini dengan membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan dengan bisnis mereka dengan baik.
“Tantangan terbesar adalah manajemen waktu. Karena kita juga seorang mahasiswa yang tidak benar-benar seratus persen langsung terjun atau dua puluh empat per tujuh langsung benar-benar kontrol bisnis kita, meluangkan waktu kita tapi karena kita juga mahasiswa, jadi ya harus benar-benar kita nge-create waktu. Karena kalau misalkan orang yang mungkin benar-benar terjun one hundred percent ke bisnis, ya dia memiliki waktu dua puluh empat per tujuh. Kalau kita kan sebagai mahasiswa dan co-founder saya seorang pekerja, jadi itu sih tantangan terberat kita untuk memproduksi produk kita,” ucap Fathul.
Bisnis CEMEAL juga direncanakan untuk diperluas. Bukan hanya di sekitaran kampus, tapi di luar daerah atau bahkan luar negeri. Karena mereka melihat adanya peluang market share yang belum diraih, dari situ bisa menjadi peluang terbesar bagi mereka.
Fathul juga berpendapat bahwa di masa depan bisnis cilok akan tetap terus bertahan sampai kapanpun. Belum lagi, rasa cilok yang sesuai dengan lidah orang Indonesia.
“Benar-benar banget. Cilok bakal terus sustain sampai kapanpun karena mau gimanapun ini cilok itu merupakan kaya akan rasa yang emang sesuai dengan lidah orang Indonesia, dengan ya kita tahulah kaya dari bumbu-bumbunya benar-benar cocok dengan lidah orang Indonesia banget. Jadi bakal sustain dan survive pasti cilok dan bakal terus berinovasi,” ucap Fathul.
Adapun jika cilok mereka telah di jual sampai ke luar negeri, mereka akan mencocokkan bahan-bahan dari produk CEMEAL. “Tentu saja bakal ada pencocokan untuk ingredients produk kita. Jadi kita juga bakal mengikuti faktor geografis ketika kita menjual di dataran tinggi, menjual yang mana memiliki empat musim atau bahkan lima. Nah, itu bakal kita cocokan juga untuk ingredients-nya biar cocok di lidah mereka,” jelasnya.
Muhammad Fathul Farizi berharap bahwa bisnis cilok mereka dapat terus berkembang dan menjadi salah satu pilihan makanan ringan favorit di kalangan mahasiswa.
